Perangkat Pembelajaran (Laporan bacaan)
Assamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh…
Bismillah….Hallo
semuanya, Alhamdulillah kita masih diberikan kenikmatan sehat walafiat semoga
kita. Kali ini saya akan menulisakan lagi blog dengan tema Perangkat
Pembelajaran
Untuk kamu
(Pembaca) terima kasih telah menyempatkan waktu untuk membaca blog ini dan
semoga apa yang saya tulis di blog ini bermanfaat untuk kita semua. Terima
KasihJ
Perangkat pembelajaran merupakan
suatu perangkat yang dipergunakan dalam proses belajar mengajar. Oleh karena
itu, setiap guru pada satuan pendidikan berkewajiban menyusun perangkat
pembelajaran yang berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan,
memotivasi siswa untuk berpatisipasi aktif (Poppy Kamalia Devi, dkk, 2009:
1-5). Perangkat pembelajaran yang diperlukan dalam mengelola proses belajar
mengajar dapat berupa: silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lembar
Kegiatan Siswa (LKS), modul.
Menurut Bong and Gall (1983)
mendefinisikan penelitian pengembangan merupakan sebuah proses yang dipakai
untuk mengembangkan dan memvalidasi produkproduk yang sudah ada atau
mengembangkan produk baru, bisa juga penelitian pengembangan digunakan untuk
menemukan pengetahuan atau menjawab pemasalahan yang sedang dihadapi. Pendapat
lain juga mendefinisikan penelitian dan pengembangan adalah usaha mengembangkan
suatu produk untuk dimanfaatkan atau digunakan bukan untuk menguji teori, Gay
(1991).Sedangkan Seals dan Richey (1994) mendefinisikan penelitian dan
pengembangan merupakan prosedur atau langkah-langkah pengkajian secara
sistematis terhadap desain, pengembangan dan evaluasi program, proses dan produk
yang harus memenuhi kriteria validitas, praktis dan efektif. Penelitian dan
pengembangan merupakan penelitian yang menghasilkan suatu luaran atau produk, dan
menguji efektifitasnya. Amir (2019) mengungkapkan Teknik uji coba produk yang
digunakan adalah survai jika berbasis pada data kualitatif untuk menguji
tingkat kebutuhan pengguna. Sedangkan untuk menguji efektifitas produk,
digunakan menggunakan metode eksperimen uji sampel (kuantitatif).
Produk pada konteks ini tidak selalu
berbentuk hadware (buku, bahan ajar, diktat, alat bantu pembelajaran dikelas
dan lain-lain), akan tetapi bisa juga perangkat lunak (software). Seperti program
untuk pengolah data, pembelajaran di kelas, perpustakaan, model-model
pembelajaran, pelatihan, evaluasi, manajemen dan lain-lain. Pada dasarnya
setiap penelitian dan pengembangan yang dilakukan untuk membuat sebuah produk
menjadi lebih mudah lebih murah (efektif dan efisien) berdasarka tingkat
kegunaannya atau manfaat dari produk tersebut. Artinya apakah nilai manfaatnya
produk tersebut setara dengan biaya yang dikeluarkan untuk pengembangan atau
bahkan jauh lebih murah, tidak hanya itu penelitian dan pengembangan didasarkan
pada kebutuhan dari pengguna.
Perangkat pembelajaran merupakan
suatu perencanaan yang dipergunakan dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu,
Kunandar (2014: 6) menjelaskan bahwa “setiap guru pada satuan pendidikan
berkewajiban menyusun perangkat pembelajaran yang lengkap, sistematis agar
pembelajaran dapat berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan,
menantang, memotivasi peserta didik untuk berpatisipasi aktif”. Perangkat
pembelajaran memiliki peranan penting bagi seorang guru sebelum memulai proses
pembelajaran. Perangkat pembelajaran yang diperlukan dalam mengelola proses
belajar mengajar dapat berupa: silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
dan Lembar Aktivitas Siswa (LAS). Perangkat yang digunakan dalam proses
pembelajaran disebut dengan perangkat pembelajaran. Ibrahim (dalam Trianto,
2007: 68) menyatakan bahwa “perangkat pembelajaran yang diperlukan dalam
mengelola proses belajar mengajar dapat berupa silabus, RPP, Lembar Kegiatan
Siswa (LKS), Instrumen Evaluasi atau Tes Hasil Belajar (THB), serta Media Alat
Peraga pembelajaran”. Jadi, Perangkat Pembelajaran dapat diartikan sebagai alat
kelengkapan yang digunakan untuk membantu pembelajaran. Pada penelitian ini
perangkat pembelajaran yang digunakan terdiri dari silabus, RPP dan LAS.
Perangkat pembelajaran merupukan hal
yang harus disiapkan oleh guru sebelum melaksanakan pembelajaran. Dalam KBBI
(2007: 17), perangkat adalah alat atau perlengkapan, sedangkan pembelajaran
adalah proses atau cara menjadikan orang belajar. Menurut Zuhdan, dkk (2011:
16) perangkat pembelajaran adalah alat atau perlengkapan untuk melaksanakan
proses yang memungkinkan pendidik dan peserta didik melakukan kegiatan
pembelajaran. Perangkat pembelajaran menjadi pegangan bagi guru dalam melaksanakan
pembelajaran baik di kelas, laboratorium atau di luar kelas. Dalam Permendikbud
No. 65 Tahun 2013 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah disebutkan bahwa
penyusunan perangkat pembelajaran
merupakan bagian dari perencanaan pembelajaran. Perencanaan pembelajaran
dirancang dalam bentuk silabus dan RPP yang mengacu pada standar isi. Selain
itu, dalam perencanaan pembelajaran juga dilakukan penyiapan media dan sumber belajar, perangkat penilaian, dan skenario pembelajaran.
Teori Belajar Behavioristik
Penerapan pembelajaran aktif,
inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan tidak serta merta dapat dilakukan
jika siswa belum memiliki stock of knowledge atau prior knowledge dari hal yang
sedang dipelajarinya. Pemberian pengalaman belajar sebagai previous experience
sangat dibutuhkan. Teori Behavioristik memiliki andil besar terhadap hal
tersebut. Proposisiproposisi Behavioristik menjadi landasan logika
pengorganisasian pembelajaran yang beraksentuasi pada terbentuknya prior
knowledge. Belajar menurut perspektif Behavioristik adalah perubahan perilaku sebagai
hasil interaksi individu dengan lingkungannya. Proses interaksi tersebut
merupakan hubungan antara stimuli (S) dan respon (R). Muara belajar adalah
terbentuknya kebiasaan. Watson mengemukakan ada dua prinsip dalam pembentukan
kebiasaan yaitu kekerapan dan kebaruan. Prinsip kekerapanmenyatakan bahwa makin
kerap individu bertindak balas terhadap suatu
stimuli, apabila kelak muncul lagi stimuli itu maka akan lebih besar kemungkinan
individu memberikan respon yang sama terhadap stimuli tersebut.
Teori Belajar Kognitif
Dalam perspektif teori kognitif,
belajar merupakan peristiwa mental, bukan peristiwa behavioral meskipun hal-hal
yang bersifat behavioral tampak lebih nyata hampir dalam setiap peristiwa
belajar. Perilaku siswa bukan semata-mata respon terhadap yang ada melainkan
yang lebih penting karena dorongan mental yang diatur oleh otaknya. Belajar adalah
proses mental yang aktif untuk mencapai, mengingat, dan menggunakan
pengetahuan. Belajar menurut teori kognitif adalah perceptual. Konsep-konsep
terpenting dalam teori kognitif selain perkembangan kognitif adalah adaptasi
intelektual oleh Jean Peaget, discovery learning oleh Jerome Bruner, reception
learning oleh Ausubel. Perkembangan kognitif menurut Jean Peaget.
Perkembangan kognitif yang
digambarkan oleh Peaget merupakan proses adaptasi intelektual. Proses adaptasi
tampak pada asimilasi, akomodasi, dan equilibration. Asimilasi ialah proses
perubahan apa yang dipahami sesuai dengan struktur kognitif (skemata) yang ada
sebelumnya. Pengintegrasian informasi baru ke dalam struktur kognitif yang
telah dimiliki oleh individu. Akomodasi adalah proses penyesuaian struktur
kognitif ke dalam situasi. Equilibration adalah pengaturan diri secara mekanis
untuk mengatur keseimbangan proses asimilasi dan akomodasi. Dengan demikian
proses belajar terjadi jika mengikuti tahap-tahap tersebut.
Menurut Bruner, kognitif berkembang
melalui tiga tahap yaitu, enaktif (melakukan aktivitas memahami lingkungan),
ikonik (memahami objek melalui gambar dan visualisasi verbal), dan simbolik
(memiliki ide abstrak yang dipengaruhi oleh kemampuan berbahasa dan berlogika).
Jika Jean Peaget menyatakan bahwa perkembangan kognitif sangat berpengaruh
terhadap perkembangan bahasa seseorang, Bruner menyatakan perkembangan bahasa
besar pengaruhnya terhadap perkembangan kognitif. Dalam memahami dunia
sekitarnya orang belajar melalui simbol bahasa, logika, matematika.
Komunikasinya dilakukan dengan menggunakan banyak sistem simbol. Semakin matang
seseorang dalam proses berpikirnya semakin dominan sistem simbolnya. Meskipun
teori belajar sosial dari Albert Bandura menekankan pada perubahan perilaku
melalui peniruan, banyak pakar tidak memasukkan teori ini sebagai bagian dari
teori belajar behavioristik. Sebab, Albert Bandura menekankan pada peran
penting proses kognitif dalam pembelajaran sebagai proses membuat keputusan
yaitu bagaimana membuat keputusan perilakuyang ditirunya menjadi perilaku
miliknya.
Teori Belajar Konstruktivistik
Konstruktivistik menekankan pada
belajar sebagai pemaknaan pengetahuan struktural, bukan pengetahuan deklaratif
sebagaimana pandangan behavioristik. Pengetahuan dibentuk oleh individu secara
personal dan sosial. Pemikiran Konstruktivisme Personal dikemukakan oleh Jean Peaget
dan Konstruktivisme Sosial dikemukakan oleh Vygotsky.
Belajar berdasarkan Konstruktivistik
menekankan pada proses perubahan konseptuall (conceptual-change process). Hal
ini terjadi pada diri siswa ketika peta konsep yang dimilikinya dihadapkan
dengan situasi dunia nyata. Dalam proses ini siswa melakukan analisis,
sintesis, berargumentasi, mengambil keputusan, dan menarik kesimpulan sekalipun
bersifat tentatif. Konstruksi pengetahuan yang dihasilkan bersifat viabilitas,
artinya konsep yang telah terkonstruksi bisa jadi tergeser oleh konsep lain
yang lebih dapat diterima. Degeng (2000) memaparkan hasil ananlisis komparatif
pandangan Behavioristik-konstruktivistik tentang belajar dikemukakan.
Proses pembelajaran
siswa sudah dikondisikan
untuk belajar secara berkelompok. Namun, pembagian kelompok
kurang bervariasi. Selain itu, masih adanya
kompetisi antar siswa
dalam satu kelompok
maupun kompetisi antar kelompok. Adanya
kompetisi inilah yang
menjadi salah satu
penyebab sikap egois siswa,
kurang peduli terhadap
teman, bahkan menyebabkan
rendahnya kreativitas siswa, sehingga
pembelajaran secara berkelompok
yang telah diterapkan kurang
efektif.
Pada
tahap studi pustaka,
peneliti melakukan kajian
terhadap teori tentang perangkat
pembelajaran, pendekatan SETS
dan kemampuan berpikir kreatif. Kegiatan
yang dilakukan adalah
dengan menganalisis buku-buku
dan jurnal. Kajian buku
dan jurnal yang
dianalisis adalah mengenai
perangkat pembelajaran yang meliputi
RPP, LKS, pendekatan
SETS, dan kemampuan berpikir kreatif. Tahap
analisis perangkat
pembelajaran, dapat diketahui
bahwa perangkat pembelajaran yang digunakan belum sesuai dengan
kebutuhan untuk meningkatkan kemampuan berpikir
kreatif. Hasil studi
pendahuluan dapat
disimpulkan bahwa guru
tidak membuat perangkat
pembelajaran yang sesuai dengan
tujuan pembelajaran, yaitu
meningkatkan kemampuan berpikir
kreatif.
Pembelajaran dirancang
untuk mengaktifkan siswa
melalui kegiatan diskusi
kelompok, tanpa adanya persaingan antar siswa maupun antar kelompok. Pemilihan pendekatan
SETS juga sesuai dengan
karakteristik siswa sekolah dasar, bahwa siswa membutuhkan
bimbingan guru atau orang dewasa
terutama untuk membimbingnya dalam
belajar. Selain itu,
adanya kegiatan diskusi
dan kerja sama antara
dua siswa atau
lebih dalam memecahkan
masalah secara bersama-sama,
adanya tujuan yang ingin dicapai, rasa
saling peduli antar teman, serta
tidak adanya kompetisi
belajar yang ada
adalah kegiatan saling
belajar, sehingga dapat menciptakan
suasana belajar yang
nyaman bagi siswa.
Jadi penggunaan pendekatan SETS dalam
pembelajaran sangat cocok
dan sesuai dengan karakteristik
siswa SD. Inti dari pendekatan SETS
adalah adanya komunikasi antar siswa, untuk saling berbagi
pengetahuan. Siswa yang
pandai membantu siswa
yang kurang pandai. Dengan
rancangan kegiatan pembelajaran tersebut
dapat meningkatkan kemampuan
berpikir kreatif. Pembelajaran
dengan menggunakan pendekatan SETS membuat para
siswa merasa nyaman
dalam beraktivitas secara berpasangan atau
dalam sebuah kelompok
belajar, sehingga mereka
dapat bekerja secara bersama-sama. Siswa juga nyaman dengan kegiatan
yang bisa dilakukanya dengan menggunakan berbagai kemampuan yang ada (seperti melakukan
penelitian dan melaporkannya) dibandingkan kegiatan pembelajran yang
berulang-ulang dan membosankan (seperti latihan soal). Dalam kegiatan
pembelajaran seperti ini siswa diberikan kebebesan berkreasi menghasilkan
produk, mengidentifikasinya bersama,
lalu mempresentasikannya di epan kelas.
Sumber bacaan :
Pengembangan Perangkat Pembelajaran Tinjauan Teoritis Dan Praktik
Jurnal
Pendidikan Dasar vol.1 no. 01, 2017
https://eprints.uny.ac.id/9310/3/BAB%202%20-%2008312244026.pdf
Penulis: Dr.
Muh, Fahrurrozi, S.E.,M.M Dr. Drs. H. Muhzana, S.Pd., M.Pd.
Ar-Riayah
Komentar
Posting Komentar