Kurikulum (Laporan bacaan)
Assamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh…
Bismillah….Hallo
semuanya, Alhamdulillah kita masih diberikan kenikmatan sehat walafiat semoga
kita. Kali ini saya akan menulisakan lagi blog dengan tema Kurikulum
Untuk kamu
(Pembaca) terima kasih telah menyempatkan waktu untuk membaca blog ini dan
semoga apa yang saya tulis di blog ini bermanfaat untuk kita semua. Terima
KasihJ
Kurikulum dalam
pengertian secara luas, yaitu meliputi keadaan gedung, suasana sekolah,
keinginan, keyakinan, pengetahuan dan sikap orang-orang melayani dan dilayani
sekolah, yakni anak didik, masyarakat, para pendidik, dan personalia termasuk
penjaga sekolah, pegawai administrasi, dan orang lain yang ada hubungannya
dengan muridmurid. Jadi kurikulum melipui segala pengalaman dan pengaruh yang
bercorak pendidikan yang diproses anak di sekolah. Dengan demikian kurikulum
itu mencakup semua kegiatan siswa dan guru yang dilengkapi dengan sarana
prasarana untuk mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan sesuai dengan
tuntutan dan kebutuhan masyarakat sebagai pengguna lulusan.
Kurikulum dapat diartikan sejumlah
pengalaman siswa yang direncanakan, diarahkan, dilaksanakan dan dipertanggung
jawabkan oleh sekolah atau guru. Oleh karena itu seyogiannya yang merancang,
melaksanakan dan mempertanggung jawabkan kurikulum itu adalah sekolah atau guru
sebagai ujung tombak dilapangan yang lebih mengetahui dan memahami kondisi
peserta didik sesuai dengan latar belakangnya. Dengan demikian perubahan kurikulum
semestinya berangkat dari kondisi di lapangan yang diketemukan, kemudian
diusulkan ke diknas untuk mendapatkan pengakuan dan kelayakan atas perubahan kurikulum
tersebut. Jadi kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi
dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggara
kegiatan belajar mengajar. Semua kegiatan yang memberikan pengalaman belajar atau
pendidikan bagi siswa pada hakekatnya adalah kurikulum.
Anatomi dapat diartikan sebagai
struktur atau komponen yang selalu menjadi kajian dalam kurikulum. Anatomi
kurikulum itu paling tidak ada 4 komponen, yaitu; tujuan, materi, metode dan
evaluasi. Ke empat komponen ini satu sama lain saling berkaitan dan
berhubungan. Komponen merupakan unsur atau bagian yang sangat esensial dalam
keseluruhan kegiatan pendidikan. Komponen kurikulum dimaksudkan adalah bagian atau
unsur yang satu sama lain saling berhubungan dan terkait. Unsur atau bagian
yang ada pada kurikulum itu adalah (a) rumusan tujuan,(b) susunan materi atau
bahan ajar, (c) pendekatan, model,strategi apa yang akan digunakan dan (d)
evaluasi baik terhadap hasil maupun proses. Untuk memahami rumusan di atas mari
kita lihat pendapat Ralph W. Tyler (1975), menyajikan empat langkah
pengembangan kurikulum (four-step model) yang disajikan dalam bentuk pertanyaan
yang mendasar tentang pengembangan kurikulum dan maupun pembelajaran
(instruction).
Komponen utama yang harus dipenuhi
dalam suatu kegiatan pengembangan kurikulum. Komponen-komponen itu tidaklah
berdiri sendiri, tetapi saling pengaruh-mempengaruhi, berinteraksi, satu sama
lain dan membentuk suatu sistem (system). Suatu system dimaksudkan bahwa kurikulum
tersebut terdiri dari aspek tuujuan,konten atau isi, strategi atau
model,pendekatan dan metode serta terakhir adalah evaluasi. Jadi kurikulum itu
pada dasarnya terdiri dari 4 komponan dan satu sama lainnya saling berhubungan.
Langkah-langkah dalam pengembangannya dimulai dari rumusan tujuan artinya
sebelum guru mempersiapkan materi dan strategi maka terlebih dahulu merenungkan
tentang tujuan apa yang diinginkan dari proses pendidikan, artinya kompetensi
apa yang harus dimiliki oleh peserta didik setelah materi tersebut disampaikan.
Ke empat komponen tersebut sering disebut sebagai dimensi kurikulum. Dengan demikian
kurikulum dapat dipandang dari aspek empat komponen yaitu kurikulum sebagai
Ide, sebagai proses dan evaluasi. Ke-empat aspek dimensi dalam pengembangan
kurikulum menjadi sesuatu yang sangat penting dalamm merrumuskan strategic ke
depan terkait dengan tuntutan dan permintaan pendidikan yang berkaulaitas.
Menurut Hamid Hasan (1988), kurikulum itu bukanlah sesuatu yang tunggal, akan
tetapi merupakan sesuatu yang beragam, artinya ketika mengartikan kurikulum
tersebut bisa dilihat dari aspek berbagai dimensi. Melalui pembagian dimensi
ini lebih mempermudah bagi pengembangan kurikulum itu untuk melakukan evaluasi
terhadap kurikulum yang sudah, sedang dan akan digunakan, sehingga pengembang
kurikulum tinggal menggunakan salah satu dari empat dimensi.
Proses pengengembangan kurikulum tersebut dapat rangkung sebagai berikut: Merumuskan apa yang akan di capai, Menentukan Isi /Bahan, Merancang metode, Menentukan alat evaluasi. Langkah-langkah yang telah dikemukakan di atas menggambarkan aspek-aspek atau komponen-komponen yang harus dikembangkan dalam setiap kegiatan pengembangan kurikulum dan pengembangan pembelajaran. Tujuan yang jelas akan memberi petunjuk yang jelas pula terhadap pemilihan isi/bahan ajar, strategi, media pembelajaran, dan evaluasi. Bahkan, dalam berbagai model pengembangan kurikulum, tujuan ini dianggap sebagai dasar, arah, dan patokan dalam menentukan komponenkomponen yang lainnya. Terlepas dari masalah apakah sebagai proses ataupun out put, tujuan kurikulum tidak terlepas diri tuntutan dan kebutuhan masyarakat, yang didasari oleh falsafah dan ideologi suatu bangsa.
Hal ini dapat dimengerti sebab upaya
pendidikan itu sendiri merupakan subsistem dalam sistem masyarakat dan negara, sehingga
kekuatan sosial, politik, budaya, ekonomi sangat berperan dalam menentukan
tujuan kurikulum atau tujuan pendidikan, terutama tujuan yang sifatnya umum
(nasional). Tujuan-tujuan tersebut membentuk suatu hierarki yang saling
berkaitan dan mempengaruhi satu sama lain. Tujuan pendidikan di Indonesia, pada
hakikatnya ingin menempatkan kedudukan manusia secara utuh yaitu manusia yang sehat
jasmani dan ruhani. Untuk mencapai tujuan itu maka, proses pendidikan lebih
diarahkan pada perkembangan manusia yang meliputi aspek Afektif, Kognitif dan
Psikomotorik. Peserta didik memiliki kemampuan yang berbeda beda, sehingga
pelayanan proses pendidikan berpusat pada kepentingan siswa sesuai dengan minat
dan bakatnya. Potensi peserta didik melalui proses kegiatan belajar mengajar,
berkembang dan mengalami perubahan baik pengetahuan,sikap maupun
keterampilannya sehingga mampu berdaptasi dengan lingkungan dimana saja berada.
Paula Freire mengemukakan bahwa pendidikan hendaklah membuat manusia menjadi
transitif, yaitu suatu kemampuan menangkap dan menanggapi masalah-masalah
lingkungan serta kemampuan berdialog tidak hanya dengan sesama, tetapi juga
dengan dunia beserta segala isinya.
Kegiatan pengembangan kurikulum,
dilihat pada tingkat makro dan mikro, mempunyai kedudukan yang sangat
strategis.Rancangan tujuan dari suatu kurikulum yang berkualitas akan menjelaskan
suatu keadaan sumber daya manusia yang diinginkan, dan dapat dikembangkan
potensinya melalui kegiatan proses pendidikan. 13 Selain itu juga rumusan
tujuan dapat dijadikan petunjuk sebagai arah untuk menuju suatu perubahan yang
dicita-citakan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan pada saat itu. Tujuan dapat
dijadikan pedoman awal untuk memulai suatu kegiatan yang akan dilakukan,
bagaimana cara melakukan kegiatan itu, sampai pada akhirnya dapat diketahui
tercapai atau tidaknya tjujan teresbut. Berangkat dari pemikiran di atas posisi
tujuan menjadi sentral dan dapat mempengaruhi terhadap keberhasilan
komponen-komponen lainnya. Dengan demikian tujuan yang jelas akan memberi
petunjuk terhadap pemilihan isi/konten sebagai bahan ajar, penentuan strategi
dan media pembelajaran, serta terhadap evaluasi yang akan digunakan untuk megukur
ketercapaiannya. Bahkan dalam berbagai model pengembangan kurikulum, tujuan
dianggap sebagai dasar, arah, patokan dalam menentukan komponen-komponen yang
lainnya.
Setelah rumusan tujuan di rencanakan
dan didokumenkan maka komponen kedua yang harus dirumuskn adalah isi, materi
sebagai bahan ajar. Konten atau isi materi yang dituliskan pada kurikulum menempati
posisi yang penting dan turut menentukan kualitas hasil pendidikan. mengemukakan bahwa isi atau materi kurikulum itu ruang lingkup kajiannnya
membahas tentang fakta-fakta, observasi, data, persepsi, penginderaan,
pemecahan masalah, yang berasal dari pikiran,manusia.
Isi yang menjadi materi dalam
kurikulum ruang lingkupnya meliputi banyak hal ada yang berkaitan dengan
pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Oleh karena itu pada tataran implementasinya
materi tersebut disajikan dengan mempertimbangkan tingkat kemampuan peserta
didik dan berjenjang, sehingga materi tersebut secara bertahap dikuasai,dipahami
dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.Untuk menentukan isi/bahan mana yang
sangat esensial dijadikan sebagai isi kurikulum tersebut, diperlukan berbagai
kriteria. Berikut ini diuraikan beberapa kriteria menurut tiga orang ahli kurikulum.
Zais (1976) menentukan empat kriteria dalam melakukan pemilihan isi/materi
kurikulum, yaitu sebagai berikut :
1. Materi kurikulum memiliki tingkat
kebermaknaan yang tinggi (significance).
2. Materi kurikulum bernilai guna
bagi kehidupan (utility).
3. Materi kurikulum sesuai dengan
minat siswa (interest).
4. Materi kurikulum harus sesuai
dengan perkembangan individu (human development).
Penentuan dan penetapan bahan yang
akan dipilih serta ruang lingkup materi kurikulum yang akan digunakan, tidak
terleps dari rumusan tujuan yang diinginkan ketika merancang kurikulum. Aspek
materi merupakan salah satu bagian terpenting dalam pengembangan proses
pembelajaran yang harus dirumuskan secara sistematis sesuai dengan tingkat
kemampuan peserta didik. Dalam pengembangan aspek materi pembelajaran dapat
melakukan dengan pendekatan “Concept Map” (Peta konsep). peta konsep adalah
alternatif untuk mengorganisasi materi dalam bentuk peta ( gambar) secara
holistik, interelasi dan konprehensip. Pengorganisasian materi pelajaran
dimaksudkan sebagai persiapan pembelajaran, selain itu peta konsep (concept
map) juga dapat digunakan sebagai cara untuk membangun struktur pengetahuan
guru dalam merencanakan materi pelajaran. Peta konsep sebagai satu teknik telah
digunakan secara ekstensif dalam pendidikan.
Strategi pembelajaran mempunyai
kedudukan yang strategis dalam kajian studi kurikulum. Menetapkan strategi
merupakan langkah ke tiga setelah menetapkan tujuan dan isi materi bahan ajar.
Strategi yang tepat akan mempermudah untuk mengantarkan pencapaian tujuan
pembelajaran. Strategi merupakan salah satu cara dalam menyampaikan materi
supaya para peserta didik lebih cepat memamahi terhadap materi yang
disampaikan. Selain itu juga suasana kelas kondusip, hidup, gembira dan
menyenangkan.dalam dunia pendidikan banyak istilah yang digunakan dalam menentukan
cara penyampaian materi, seperti istilah metode, teknik, pendekatan, model dan
strategi pembelajaran.
Strategi sangat erat hubungan dengan
siasat atau taktik yang digunakan guru dalam melaksanakan kurikulum secara sistemik
dan sistematik. Sistemik mengandung arti adanya saling keterkaitan di antara
komponen kurikulum sehingga terorganisasikan secara terpadu dalam mencapai
tujuan, sedangkan sistematik mengandung pengertian bahwa langkah-langkah yang
dilakukan guru secara berurutan sehingga mendukung tercapainya tujuan. Strategi atau pendekatan pembelajaran akan menentukan output dan
outcome peserta didik dalam memahami dan mengimplementasikannya dalam kehidupan
sehari hari. Ada dua pendekatan dalam proses pembelajaran, yaitu; pendekatan
yang lebih beroreintsi pada guru dan ada juga pendekatan yang berpusat pada
karakteristik dan kepentingan peserta didik.
Evaluasi merupakan komponen ke empat
dari pengembangan kurikulum dan pembelajaran. evaluasi menjadi mempunyai kedudukan
yang penting terutama dalam menentukan keberhasilan kegaiatan pendidikan dan
pembelajaran. Evaluasi dilihat dari aspek makro untuk melihat keberhasilan
kegiatan pendidikan secara umum, sedangkan secara mikro dapat digunakan untuk
melihat keberhasilan kegiatan pembelajaran di kelas. Evaluasi dapat menentukan
ketercapaian tujuan, kesesuaian materi dn ketepatan menggunakan strategi,pendekatan,teknik,model
dan metode.
Sumber bacaan :
teori dan telaah pengembangan kurikulum
Penulis: Dr. R.
Masykur, M.Pd.
Komentar
Posting Komentar