Kultur Sekolah (Laporan bacaan)

Assamualaikum warahmatullahi wabarakatuh…

Bismillah….Hallo semuanya, Alhamdulillah kita masih diberikan kenikmatan sehat walafiat semoga kita. Kali ini saya akan menulisakan lagi blog dengan tema Kultur Sekolah

Untuk kamu (Pembaca) terima kasih telah menyempatkan waktu untuk membaca blog ini dan semoga apa yang saya tulis di blog ini bermanfaat untuk kita semua. Terima KasihJ

Kultur merupakan pandangan hidup yang diakui bersama oleh suatu kelompok masyarakat, yang mencakup cara berfikir, perilaku, sikap, nilai yang tercermin baik dalam wujud fisik maupun abstrak. Oleh karena itu, suatu kultur secara alami akan diwariskan oleh suatu generasi kepada generasi berikutnya. Sekolah merupakan lembaga utama yang didesain untuk memeperlancar proses transmisi kultural antar generasi tersebut (Ariefa Efianingrum, 2009: 21).

Begitu pula dengan kebudayaan atau kultur dalam sekolah. Setiap sekolah memiliki budaya sekolah yang berbeda dan mempunyai pengalaman yang tidak sama dalam membangun budaya sekolah. Perbedaan pengalaman inilah yang menggambarkan adanya “keunikan” dalam dinamika budaya sekolah. Kondisi ini adalah normal sebagaimana dijelaskan oleh Bare (Siti Irene Astuti D, 2009 : 119-120) yang menyatakan bahwa ada beberapa karakteristik dari pendekatan antropologi dalam memahami dalam budaya sekolah.

Budaya sekolah menyebabkan perbedaan respon sekolah terhadap perubahan kebijakan pendidikan, dikarenakan ada perbedaan karakteristik yang melekat pada satuan pendidikan, selain itu budaya sekolah juga mempengaruhi kecepatan sekolah dalam merespon perubahan tergantung kemampuan sekolah dalam merancang pelayanan sekolah (Siti Irene Astuti D, 2009: 74).

Jadi kultur sekolah dapat diartikan sebagai kualitas internal-latar,

lingkungan, suasana, rasa, sifat dan iklim yang dirasakan oleh seluruh

orang. Kultur sekolah merupakan kultur organisasi dalam konteks

persekolahan, sehingga kultur sekolah kurang lebih sama dengan kultur

organisasi pendidikan. Kultur sekolah dapat diartikan sebagai kualitas

kehidupan sebuah sekolah yang tumbuh dan berkembang berdasarkan

spirit dan nilai-nilai sebuah sekolah. Biasanya kultur sekolah ditampilkan

dalam bentuk bagaimana kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan

lainnya bekerja, belajar dan berhubungan satu sama lainnya sehingga

menjadi tradisi sekolah.

Karakteristik Kultur Sekolah

Kultur sekolah diharapkan memperbaiki mutu sekolah, kinerja di sekolah dan mutu kehidupan yang diharapkan memiliki ciri sehat, dinamis atau aktif, positif, dan profesional. Sekolah perlu memperkecil ciri tanpa kultur anarkhis, negatif, beracun, bias dan dominatif. Kultur sekolah sehat memberikan peluang sekolah dan warga sekolah berfungsi secara optimal, bekerja secara efisien, energik, penuh vitalitas, memiliki semangat tinggi, dan akan mampu terus berkembang. Sifat dinamika kultur sekolah tidak hanya diakibatkan oleh dampak keterkaitan kultur sekolah dengan kultur sekitarnya, melainkan juga antar lapisan-lapisan kultur tersebut. Perubahan-perubahan pola perilaku dapat secara proses mengubah sistem nilai dan keyakinan pelaku dan bahkan mengubah sistem asumsi yang ada, walaupun ini sangat sukar. Dinamika kultur sekolah dapat saja menghadirkan konflik dan jika ini ditangani dengan bijak dan sehat dapat membawa perubahan yang positif (Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003: 6-7).

Kultur-kultur yang direkomendasikan Depdiknas untuk dikembangkan antara lain

1.      Kultur yang terkait prestasi/kualitas : (a) semangat membaca dan mencari referensi; (b) keterampilan siswa mengkritisi data dan memecahkan masalah hidup; (c) kecerdasan emosional siswa; (d) keterampilan komunikasi siswa, baik itu secara lisan maupun tertulis; (e) kemampuan siswa untuk berpikir obyektif dan sistematis.

2.      Kultur yang terkait dengan kehidupan sosial : (a) nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan; (b) nilai-nilai keterbukaan; (c) nilainilai kejujuran; (d) nilai-nilai semangat hidup; (e) nilai-nilai semangat belajar; (f) nilai-nilai menyadari diri sendiri dan keberadaan orang lain; (g) nilai-nilai untuk menghargai orang lain; (h) nilai-nilai persatuan dan kesatuan; (i) nilai-nilai untuk selalu bersikap dan berprasangka positif; (j) nilai-nilai disiplin diri; (k) nilai-nilai tanggung jawab; (l) nilai-nilai kebersamaan; (m) nilai-nilai saling percaya; (n) dan nilai-nilai yang lain sesuai kondisi sekolah ( Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003: 25-26).

Kultur sekolah bersifat dinamis. Perubahan pola perilaku dapat mengubah sistem nilai dan keyakinan pelaku dan bahkan mengubah sistem asumsi yang ada, walaupun ini sangat sulit. Namun yang jelas dinamika kultur sekolah dapat saja menghadirkan konflik dan jika ini ditangani dengan bijak dan sehat dapat membawa perubahan positif. Kultur sekolah itu milik kolektif dan merupakan perjalanan sejarah sekolah, produk dari berbagai kekuatan yang masuk ke sekolah. Sekolah perlu menyadari secara serius mengenai keberadaan aneka kultur subordinasi yang ada seperti kultur sehat dan tidak sehat, kultur kuat dan lemah, kultur positif dan negatif, kultur kacau dan stabil dan konsekuensinya terhadap perbaikan sekolah. Mengingat pentingnya sistem nilai yang diinginkan untuk perbaikan sekolah, maka langkahlangkah kegiatan yang jelas perlu disusun untuk membentuk kultur sekolah (Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003: 7).

Identifikasi Kultur Sekolah

Kotter dalam (Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003: 7-8) memberikan gambaran tentang budaya dengan melihat dua lapisan. Lapisan pertama sebagian dapat diamati dan sebagian tidak teramati seperti: arsitektur, tata ruang, eksterior dan interior, kebiasaan dan rutinitas, peraturan-peraturan, cerita-cerita, upacara-upacara, ritus-ritus, simbol, logo, slogan, bendera, gambar-gambar, tanda-tanda, sopan santun, cara berpakaian, dan yang serupa dapat diamati langsung, dan hal-hal yang berada di balik yang tampak itu tidak kelihatan, tidak dapat dimaknai dengan segera. Lapisan pertama budaya berupa norma-norma kelompok atau cara-cara tradisional berperilaku yang telah lama dimiliki kelompok, umumnya sukar diubah dan biasa disebut artifak

Lapisan kedua berupa nilai-nilai bersama yang dianut kelompok berhubungan dengan apa yang penting, baik, dan benar. Lapisan ini tidak dapat diamati karena terletak di dalam kehidupan bersama. Lapisan pertama yang berintikan norma-norma perilaku sukar diubah, maka lapisan kedua yang berintikan nilai-nilai dan keyakinan sangat sukar diubah dan memerlukan waktu untuk mengubah.

Kepala sekolah sebagai sentral pengembangan kultur sekolah harus dapat mejadi contoh dalam berinteraksi di sekolah. Ia adalah figur yang memiliki komitmen terhadap tugas sekolah, jujur dalam kata dan perbuatan, dan selalu bermusyawarah dalam membuat kebijakan sekolah, ramah, dan menghargai pendapat orang lain. Selain itu, kepala sekolah merupakan model bagi warga sekolah.

a.       Kultur Positif, Negatif, dan Netral

menggambarkan kultur sekolah yang terkait dengan usaha meningkatkan kualitas pendidikan. Kultur sekolah ada yang bersifat postitif, negatif, dan netral. Kultur yang bersifat positif adalah kultur yang pro (mendukung) peningkatan kualitas pendidikan. Sebagai contoh kerjasama dalam

mencapai prestasi, penghargaan terhadap yang berprestasi,

komitmen terhadap belajar, saling percaya antar warga

sekolah, menjaga sportivitas dan sebagainya. Kultur yang

bersifat negatif adalah kultur yang kontra (menghambat)

peningkatan kualitas pendidikan. Sebagai contoh banyak jam

pelajaran yang kosong, siswa takut berbuat salah, siswa takut

bertanya atau mengemukakan pendapat, warga sekolah saling

menjatuhkan, persaingan yang tidak sehat di antara para siswa,

perkelahian antar siswa atau antar sekolah, penggunaan

minuman keras dan obat-obat terlarang, pornografi dan

sebagainya. Sedangkan kultur yang bersifat netral adalah

kultur yang tidak mendukung maupun menghambat

peningkatan kualitas pendidikan. Sebagai contoh arisan

keluarga sekolah, seragam guru, dan sebagainya.

b.      Artifak, Nilai, Keyakinan, dan Asumsi

Kultur sekolah merupakan aset yang bersifat abstrak, bersifat unik, dan senantiasa berproses dengan dinamika yang tidak sama antara satu sekolah dengan sekolah yang lain. Dalam kaitannya dengan kebutuhan pengembangan

kultur sekolah, yang perlu dipahami bahwa kultur hanya dapat dikenali melalui pencerminannya pada berbagai hal yang dapat

diamati disebut dengan artifak.

c.       Peran Kepala Sekolah.

Para pemimpin di dunia pendidikan harus lebih terlibat dalam upaya membentuk sekolah yang tanggap terhadap kebutuhan yang muncul dalam komunitas dan masyarakat, tidak hanya yang berkaitan dengan perubahan konteks dunia kerja maupun pekerjaan, tetapi juga memperhatikan masalah politis, kultural, dan perubahan sosial yang berlangsung.

Untuk membangun kultur, kepala sekolah harus memberi perhatian terhadap aspek informal, aspek simbolik, dan aspek yang tak tampak dari kehidupan sekolah yang membentuk keyakinan dan tindakan tiap warga sekolah. Tugas kepala sekolah adalah menciptakan atau membentuk dan mendukung

kultur yang diperlukan untuk menguatkan sikap yang efektif dalam segala hal yang dikerjakan di sekolah.

Pendekatan kultur dalam meningkatkan mutu saat ini mulai memperoleh perhatian untuk melengkapi konsep pendekatan struktur yang telah lebih dulu berkembang dalam praktek pengelolaan sekolah. Menurut Sastrapratedja

(2000: 5), “struktur” dan “perilaku” selama ini merupakan dua konsep yang sangat dominan dalam pendekatan pelatihan untuk memperbaiki kondisi organisasi. Tetapi pendekatan ini tidak mampu menjangkau “sumber-sumber kemanusiaan” dalam suatu profesi. Oleh karena itu para ahli mulai berpaling kepada “manajemen berbasis nilai”. Pendekatan ini menekankan kepada upaya mengembangkan hubungan kolegial, kepercayaan satu terhadap yang lain, saling pengertian dan dukungan. Itu semua pada gilirannya akan menjadi perbaikann  berkesinambungan dan pemberdayaan seluruh warga sekolah. Pendekatan budaya juga menekankan kepada penghayatan segi-segi simbolik, tradisi, dan riwayat sekolah, yang kesemuanya itu akan membentuk keyakinan, kepercayaan diri dan kebanggaan akan sekolahnya.

Bentuk kultur sekolah secara intrinsik muncul sebagai sebuah fenomena yang unik dan menarik, karena pandangan, sikap, serta perilaku yang hidup dan berkembang di sekolah pada dasarnya mencerminkan, kepercayaan dan

keyakinan yang mendalam dan khas bagi warga sekolah yang dapat berfungsi sebagai suatu spirit yang mendukung dan membangun kinerja sekolah.

Unsur yang kasat mata mempunyai makna kalau berkaitan atau kalau mencerminkan apa yang tidak kasat mata. Yang tidak kasat mata itu adalah filsafat atau pandangan dasar sekolah mengenai kenyataan yang luas, makna hidup, tugas manusia di dunia dan nilai-nilai, yaitu apa yang dianggap penting dan harus diperjuangkan oleh sekolah. Itu semua harus dinyatakan secara konseptual dalam rumusan visi, misi, tujuan dan sasaran yang lebih konkrit yang akan dicapai sekolah. Adapun unsur yang kasat mata dapat termanifestasi secara konseptual/verbal maupun visual/ materil. Yang verbal meliputi: (1) visi, misi, tujuan dan sasaran; (2) kurikulum; (3) bahasa komunikasi; (4) narasi sekolah; (5) narasi tokoh-tokoh; dan (6) struktur organisasi; (7) ritual; (8) upacara; (9)prosedur belajar[1]mengajar; (10) peraturan, sistem ganjaran/hukuman; (11) pelayanan psikologis sosial; (12) pola interaksi sekolah dengan orang tua/masyarakat, dan yang materiil dapat berupa: (1) fasilitas dan peralatan; (2) artifak dan tanda kenangan; (3) pakaian seragam.

 

Sumber bacaan : Jurnal Manajemen Pendidikan Islam

                        : https://eprints.uny.ac.id

Penulis: Nurul Imtihan

Komentar