Karakteristik Peserta Didik (Laporan Bacaan)

 

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh…

Bismillahirrahmanirrahim, Allhamdulillah pada kali ini saya di beri kenikmatan untuk menuliskan Blog ini dan juga untukpara pembaca semoga selalu diberikan kesehatan, Aamiin. :) 

Dalam kesempatan ini, saya akan melaporkan hasil membaca saya mengenai “Karakteristik Perserta Didik” untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Magang 1. Bahan yang manjadi sumber bacaan saya yaitu Artikel yang berjudul “ Analisis Karakteristik Perserta Didik”

Sebelum kita mengetahui lebih jauh tentang “Karakteristik perserta didik”, lebih baik jika terlebih dahulu kita mengetahui tentang “karakteristik” dari hasil pemahaman saya dapat kita simpulkan berberapa hal tentang “karakteristik” yaitu sifat, ahklah, kejiwaan, budi pekerti, tolak etis atau moral yang ditunjukkan oleh individu. Sedangkan untuk perserta didik orang yang belum dewasa, yang memerlukan usaha, bantuan, bimbingan orang lain untuk menjadi dewasa guna melaksanakan tugas sebagai makhluk Tuhan, sebagai umat manusia, dan sebagai warga negara.

Baiklah langsung saja kita masuk ke intinya,

Pada saat pertama kali saya membaca artikel tersebut, saya langsung membaca tentang pengertian karakteristik perserta didik. Mendefenisikan karakteristik sebagai ciri dari kualitas perseorangan perserta didik yang ada pada umumnya meliputi antara lain kemampuan akademik, usia dan tingkat kedewasaan, motivasi terhadap mata pelajaran, pengalaman, keterampilan, psikomotorik, kemampuan kerjasama, serta kemampuan sosial. 

Nah, setelah mengetahui dan memahami bacaan tentang pengertian karakteristik. Karakteristik dikhusukan dengan non konvesional. Meliputi minoritas beberapa hal dibawah ini:

a. Latar bekalang akademik Guru memliki peran besar terhadap jumlah perserta didik yang akan mempengaruhi persiapan guru dalam menentukan materi, metode, media, waktu yang dibutuhkan, dan evaluasi pembelajaran yang dilaksanakan.

b. Latar belakang perserta didik Pemahaman guru terhadap latar belakang peserta didik seperti latar belakang keluarga, ekonomi, tingkat hobi dan lain sebagainya juga berpengaruh terhadap proses perumusan perencaan sistem pembelajaran. Untuk memperoleh data tentang latar belakang peserta didik dapat diperoleh melalui pengisian biodata oleh peserta didik.

c. Indeks prestasi Indeks prestasi peserta didik juga menjadi penting untuk diketahui oleh guru, agar materi yangd diberikan sesuai dengan kemampuan:  Dapat disesuaikan dengan tingkat prestasi yang mereka miliki.  Bahkan peserta didik yang memiliki tingkat prestasi yang homogen dapat ditempatkan pada kelas yang sama.  Guru juga bisa mempertimbangkan tingkat keluasaan dan kedalaman materi yang disampaikan dengan prestasi yang dimiliki peserta didik. Untuk mengetahui indeks prestasi peserta didik dapat diperoleh melalui nilai raport sebelumnya atau seleksi kemampuan awal peserta didik yang diselenggarakan oleh lembaga.

D. Tingkat kemampuan mereka dalam menerima materi pelajaran.  Mengukur tingkat kedalaman dan keluasan materi.  Bahkan dengan memahami tingkat intelegensi peserta didik guru dapat menyusun materi, metode, media, serta tingkat kesulitan evaluasi terhadap tingkat intelegensi peserta didik. Tingkat intelegensi peserta didik dapat diperoleh melalui tes intelegensi peserta didik atau tes potensi akademik.

e. Keterampilan membaca Salah satu kecakapan yang harus dimiliki oleh peserta didik dalam belajar adalah ketrampilan membaca. Ketrampilan membaca adalah menyangkut tentang kemampuan peserta didik dalam menyimpulkan secara tepat dan akurat tentang bahan bacaan yang mereka baca. Untuk mengetahui tingkat ketrampilan membaca peserta didik dapat dilakukan melalui tes membaca dan menyimpulkan bahan bacaan dalam rentang waktu yang telah ditentukan.

f . Nilai ujian Nilai ujian Juga dapat dijadikan sebagai pedoman untuk memahami karakteristik awal peserta didik. Untuk memperoleh nilai ujian peserta didik perlu dilakukan kemampuan awal peserta didik terhadap mata pelajaran yang diampu oleh guru yang bersangkutan

g. Kebiasaan belajar/ gaya belajar Aspek lain yang perlu diperhatikan oleh guru dalam proses pembelajaran adalah memahami gaya belajar peserta didik atau disebut juga dengan learning style. Gaya belajar mengacu pada cara belajar yang lebih disukai oleh peserta didik. 

Dalam proses pembelajaran, banyak para peserta didik yang mengikuti belajar pada mata pelajaran tertentu, diajar dengan menggunakan strategi yang sama, akan tetapi mempunyai tingkat pemahaman yang berbeda-beda. Perbedaan ini tidak hanya disebabkan oleh tingkat kecerdasan peserta didik yang berbeda-beda, akan tetapi ditentukan oleh cara belajar yang dimiliki oleh masing-masing peserta didik. 

Seorang peserta didik yang senang membaca, kurang terbiasa belajar dengan baik jika dia harus mendengarkan ceramah atau diskusi. Hal ini dilakukan agar guru dapat memprediksi atau melihat tingkat antusias peserta didik terhadap pembelajaran yang disampaikan. Oleh sebab itu guru perlu melakukan wawancara atau pengisian angket, agar dapat merangkum seluruh penilaian yang mencerminkan tentang minat peserta didik terhadap mata pelajaran yang akan disampaikan.

i. Harapan atau keinginan peserta didik Harapan atau keinginan peserta didik terhadap mata pelajaran yang akan diberikan juga bisa dijadikan sebagai patokan guru dalam memahami karakteristik peserta didik. Hal ini dapat dilakukan dengan meminta peserta didik untuk mengemukakan pendapatnya tentang harapan mereka terhadap mata pelajaran yang akan diberikan, suasana yang diinginkan, serta tujuan yang ingin diperoleh dari mata pelajaran yang disajikan.

j. Lapangan kerja yang diinginkan Hal ini yang dapat dilakukan dengan pengisian angket. Sehingga berdasarkan informasi ini seorang guru dapat memberikan bimbingan dan motivasi terhadap peserta didik dalam upaya pencapaian cita-cita mereka inginkan. 

Oke kita lanjutkan... 

Setelah membaca beberapa bagian inti dari artikel tersebut dapat saya pahami dan sampaikan beberapa faktor yng dapat memberikan informasi kepada setiap guru dan diri kita sendiri

1. Faktor-faktor sosial

a. Usia Faktor usia dapat dijadikan patokan dalam memahami karakteristik peserta didik. Memahami usia peserta didik akan berpengaruh terhadap pemilihan pendekatan pembelajaran yang akan dilakukan. Pendekatan belajar yang digunakan terhadap usia kanak-kanak tertentu saja berbeda dengan pendekatan belajar yang digunakan terhadap anak remaja atau dewasa. Dalam praktik pendidikan dikenal dengan istilah paedagogi dan andragogi. Pedagogi berasal dari bahasa yunani "paid" artinya anak dan "agogos" artinya membimbing. Itulah sebabnya istilah pedagogi dapat diartikan sebagai ilmu dan seni mengajar anak-anak. Sedangkan andragogi berasal dari bahasa yunani yakni "anda" artinya orang dewasa dan "agogos" artinya memimpin. Definisi istilah andragogi kemudian dapat diartikan sebagai suatu seni dan ilmu untuk membantu orang dewasa belajar.

b. Kematangan Kematangan juga dapat diartikan sebagai patokan dalam memahami karakteristik peserta didik, dimana kematangan secara psikologis juga menjadi pertimbangan guru dalam menentukan berbagai macam pendekatan belajar yang sesuai dengan tingkat usia atau kesiapan peserta didik. Dalam ilmu psikologi pendidikan kematangan ini disebut juga dengan perkembangan. Perkembangan merupakan suatu perubahan yang bersifat kualitatif dari fungsi-fungsi tubuh manusia baik jasmani maupun rohani . Dari perkembangan jasmani dan rohani manusia yang terjadi pada setiap fase kehidupan manusia, mengarah kepada terjadinya proses kematangan. Kematangan ini mencakup:  Kematangan pre natal yakni anak yang berusia 2,5 – 9 tahun akan mengalami kematangan fungsi syaraf serta refleksi untuk menggerakkan tubuh bayi.

Perkembangan vital yakni lahir, menangis, dan tak berdaya tetapi setelah mengalami fase tersebut ketiga aspek diatas dapat berfungsi dan menjadi matang  Kematangan ingatan yakni 2 – 3 tahun fungsi ingatan anak mulai berkembang, sehingga telah mampu menerima kesan dan ingatan serta menuju kesempurnaannya pada usia berikutnya.  Kematangan imajinasi yakni pada anak usia 3 – 4 tahun anak sudah merasa bahwa dirinya merupakan kepentingan dari orang lain. Bahkan dia telah mulai menyadari bahwa ia dibatasi oleh orang lain. Pada usia berikutnya imajinasi tersebut akan berkembang menuju kematangannya.  Kematangan pengamatan yakni pada usia 4 – 6 tahun sudah berkembang fungsi pengamatan untuk mengenal lingkungan sekitar, sehingga pada tahun-tahun berikutnya fungsi-fungsi kematangan menjadi dominan.  Kematangan intelektual yakni pada anak usia 6 atau 7 tahun anak sudah mulai berfikir secara logi, baik dan buruk. Dan pada tahun berikutnya perkembangan dan fungsi intelektual anak akan menuju kematangannya sering juga disebut proses pembelajaran yang diperoleh. Dengan demikian, pemahaman guru terhadap fase-fase perkembangan atau kematangan psikologis peserta didik dapat membantu guru dalam menentukan pendekatan pembelajaran peserta didik yang relevan dengan usia kematangan psikologis peserta didik .

c. Hubungan dengan sesama peserta didik Berdasarkan penelitian ilmiah yang dilakukan, bahwa interaksi antara guru dan peserta didik, peserta didik dengan yang lainnya tidak lagi menjadi hubungan secara sepihak tetapi lebih jauh merupakan hubungan emosional dan simpatik atau interaktif lewat proses belajar mengajar. Peserta didik tidak lagi menjadi objek didik tetapi telah tereduksi dengan polarisasi pemikiran hari dengan menyatakan bahwa peserta didik sebagai subjek didik, proses interaksi yang menyenangkan dan menggairahkan menjadikan belajar yang efektif Mengetahui aspirasi dan kebutuhan para peserta didik. 

Dengan cara itu guru dapat merancang strategi yang lebih tepat untuk memenuhi kebutuhan dan aspirasi itu, baik secara individual maupun secara kelompok.

Semakin jauh saya membaca dan memahami bacaan tentang karakteristik perserta didik untuk itu kita perlu memahami Langkah-langkah analisis kemampuan peserta didik Ada tiga langkah yang perlu dilakukan dalam mengadakan analisis kemampuan awal peserta didik berupa:

a. Melakukan pengamatan atau observasi kepada peserta didik secara perorangan. Pengamatan ini bisa dilakukan dengan menggunakan tes kemampuan awal, atau angket dan wawancara. Tes kemampuan awal digunakan untuk mengetahui konsep-konsep, prosedur-prosedur atau prinsip-prinsip yang telah dikuasai oleh pembelajar yang terkait dengan konsep, prosedur, atau prinsip yang akan diajarkan. Wawancara atau angket dapat digunakan untuk menggali informasi mengenai kemampuan awal yang lain, seperti pengetahuan yang tidak terorganissasi, pengetahuan pengalaman analogi, dan strategi kognitif.

b. Tabulasi karakteristik perorangan peserta didik. Hasil pengemasan yang dilakukan pada langkah pertama ditabulasi untuk mendapatkan klasifikasi dan rinciannya. Hasil tabulasi akan digunakan untuk daftar klasifikasi karakteristik menonjol yang perlu diperhatikan dalam penetapan strategi pengelolaan.

c. Pembuatan daftar strategi karakteristik peserta didik. Daftar ini perlu dibuat sebagai dasar menentukan strategi pengelolaan pembelajaran. Satu hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan daftar ini adalah daftar harus selalu disesuaikan dengan kemajuan-kemajuan belajar yang dicapai pembelajar secara perorangan.

Sekian laporan hasil membaca saya. Apabila ada salah dalam penulisan mohon kritik dan sarannya yang bersifat membangun. 

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh



Sumber bacaan

Artikel : Analisis Karakteristik perserta didik

Penulis : Ahmad Taufik

Komentar